10 Karakter dan Sifat Buruk Orang Indonesia

munsyafandi.com ~ Indonesia merupakan sebuah negara dengan ragam terbesar, baik alam hingga manusianya. Dalam keragamannya, manusia Indonesia memiliki ciri atau sifat yang melekat dalam kehidupan berbangsa dan bernegara mereka.
Berikut adalah 10 sifat buruk manusia Indonesia tersebut.
 
10 Karakter dan Sifat Buruk Orang Indonesia - munsyafandi.com


1. Hipokrisi (Munafik / Suka berpura-pura)
Munafik. Kata hipokrisi didapat dari Yunani ὑπόκρισις (hypokrisis), yang artinya “cemburu”, “berpura-pura”, atau “pengecut”.
Dalam bahasa indonesia sendiri sering disebut sebagai “munafik”. Ciri yang satu ini cukup menonjol di tengah kehidupan masyarakat Indonesia.
Sistem feodal di masa lalu yang menekan rakyat Indonesia menjadi sumber dari hiprokisi yang dahsyat! Baik datang dari urusan keagamaan, sosial, hingga masalah korupsi.
Agama datang untuk memperkaya kehidupan jiwa manusia Indonesia, namun tak sepenuhnya mampu dirasakan karena dihantarkan dengan kekerasan, paksaan, kemunafikan, kebencian, kedengkian, hingga persekutuan dengan kekuasaan lain.
Hal ini jelas melenceng jauh dari ajarannya, jauh panggang daripada api. Begitu pula orang-orang yang menentang korupsi, namun turut juga melakukan korupsi.
Banyak dari manusia Indonesia yang mengatakan bahwa hukum yang diterapkan dalam negeri ini telah bersikap adil, namun pada kenyataannya pencuri kecil masuk penjara, namun koruptor bebas keluar masuk penjara.
Kondisi tersebut tak berubah ketika kita mengingat kasus pencurian bambu yang dilakukan oleh sepasang nenek dan kakek di Gorontalo pada beberapa waktu lalu, yang memaksa mereka disidangkan di Pengadilan Negeri Limboto. Hal yang sangat-sangat kontras dengan pelaku korupsi besar yang beberapa kali lolos dari sidang. 

2. Tak Bertanggung Jawab
Cuek, naif dan masa bodoh. Menurut Mochtar Lubis, kata “Bukan saya” adalah kalimat paling populer di mulut manusia Indonesia.
Kesalahan yang dilakukan oleh atasan digeser ke bawahannya, dan terus dilakukan sampai pemegang jabatan paling bawah.
Sejumlah kasus korupsi yang terjadi di Indonesia hingga kini dilakukan tak hanya oleh pimpinan, namun juga merambah ke pekerja bawahan mereka.
Dari kasus tersebut, diduga ada sistem bagi-hasil dari keuntungan yang didapat dari aksi korupsi mereka. Salah satu kalimat familiar yang ada di tengah masyarakat perkotaan seperti Jakarta dan kota-kota besar lainnya, terutama kalangan menengah ke bawah adalah “Saya hanya melaksakan perintah dari atasan.”
Bahkan sampai ke tingkat supir bus dan angkot, yang sering membuat kemacetan karena seka ‘ngetem’ , tak mau disalahkan dan selalu berujar “Setoran belum cukup”.
Mereka memang tak mau disalahkan alias tidak mau bertanggungjawab atas apa yang jelas-jelas dilakukannya. Pernyataan-pernyataan tersebut hingga kini masih melekat pada banyak oknum pejabat, pemerintah, keamanan, supir, hingga level bawah lainnya, untuk sekedar menutupi hati nurani mereka. 

3. Berjiwa Feodal
Kapitalisme terorganisir dan premanisme struktural. Feodal berhubungan dengan susunan masyarakat yang dikuasai oleh kaum bangsawan atau elit, tentang sikap, cara hidup dan sebagainya.
Feodalisme adalah struktur pendelegasian kekuasaan sosio-politik yang dijalankan kalangan bangsawan/monarki/kaum elite, untuk mengendalikan berbagai wilayah yang diklaimnya melalui kerja sama dengan pemimpin-pemimpin lokal sebagai mitra.
Dalam pengertian yang asli, struktur feodal disematkan oleh sejarawan pada sistem politik di Eropa pada Abad Pertengahan, yang menempatkan kalangan kesatria dan kelas bangsawan lainnya (vassal) sebagai penguasa kawasan atau hak tertentu (fief atau, dalam bahasa Latin, feodum) yang ditunjuk oleh monarki (biasanya raja atau lord).
Salah satu tujuan dari revolusi kemerdekaan Indonesia adalah membebaskan manusianya dari feodalisme. Namun pada kenyataannya, bentuk-bentuk feodalisme baru terus bermunculan hingga kini.
Sikap-sikap feodalisme dapat kita lihat dari bagaimana pemerintah kita dalam urusan jabatan, banyak yang masih mengutamakan hubungan atau kedekatan ketimbang kecakapan, pengalaman, maupun pengetahuannya. Jiwa feodal ini tumbuh subur tak hanya di kalangan atas, namun juga bawah.
Masalah feodalisme ini tidak lepas dalam kenyataan hidup berbangsa dan bernegara di Indonesia kini. Politik ‘bagi kursi‘ atau bagi-bagi jabatan yang terjadi dalam kancah politik Indonesia adalah salah satunya.
Pada masa reformasi sejak 1998, tujuan utama untuk menghapuskan praktek ini dengan sebutan lainnya yang lebih populer pada masa itu, yaitu Kolusi dan Nepotisme, hingga kini belum dapat dilakukan. 

4. Percaya Takhayul
Animisme, dinamisme, satanisme. Ciri yang satu ini tak lepas dari kebudayaan dan tradisi bangsa Indonesia. Mereka masih percaya benda-benda disembah untuk memperoleh berkah. Tak jarang nyawa pun dipertaruhkan sebagai bagian dari persembahan.
Sampai saat ini pun, kita masih melihat secara nyata bagaimana banyak program televisi yang menayangkan hal-hal berbau magis dan gaib.
Nyatanya, hal tersebut masih saja menghibur manusia Indonesia saat ini. Tak hanya tayangan berbau takhayul, pengobatan yang mengandalkan dukun dan sihir pun masih terus dilakukan oleh masyarakat daerah di Indonesia.
Kepercayaan itu terus dilakukan meski tak ada penelitian yang mampu membuktikan keabsahannya. Pendidikan menjadi salah satu benteng yang kuat untuk menghalau pemikirian-pemikiran tersebut. Dengan pengetahuan yang memadai, hal tersebut akan mampu lebih dikaji ulang agar mampu diterima secara logika. 

5. Watak Lemah
Mudah terhasut. Manusia Indonesia memiliki watak yang lemah serta karakter yang kurang kuat.
Dalam sejarah Indonesia, Presiden Soekarno adalah sosok yang mampu memberikan contoh dari ciri ini.
Terkait masalah inflasi yang pernah menyerang Indonesia, Soekarno pernah mengatakan bahwa inflasi itu baik demi ‘revolusi Indonesia’.
Dampaknya, seperti yang banyak diketahui, inflasi di Indonesia mencapai 650 persen dalam setahun setelah ia lengser dari kursi presiden.
Kegoyahan watak merupakan akibat dari ciri masyarakat dan manusia feodal juga. Hal tersebut hingga kini masih terus ditemukan dalam manusia Indonesia untuk menyenangkan atasan atau menyelamatkan diri sendiri. 

6. Boros dan Maunya Instan
Boros dan tak suka suatu proses alias insttan. Lebih besar pasak daripada tiang. Itu kadang sifat yang banyak merasuki orang Indonesia.
Dia cenderung boros. Dia senang berpakaian bagus, memakai perhiasan, berpesta-pesta. Barang-barang bermerek selalu menjadi incaran orang Indonesia.
Manusia Indonesia juga tidak mau sesuatu itu melalui sebuah “proses”. Maunya langsung jalan pintas yang instan. Padahal, segala sesuatu butuh proses, bukan instan.
Jadi, mereka selalu mencela dan menganggap remeh suatu keputusan yang diambil, dan selalu melihat dari sisi yang negatif dan negatif dan negatif. 

7. Malas
Malas, tak mau bekerja keras. Manusia Indonesia sebenarnya kreatif, cepat belajar, otaknya cukup encer namun malas dan kurang sabar. Mau kaya tapi enggan bekerja keras. Mau dapat gelar tapi ogah belajar.
Itulah yang sering kita lihat di sekeliling kita. Gejalanya hari ini adalah cara-cara banyak orang ingin segera menjadi “miliuner seketika”, sehingga sering terjebak dengan penipuan dengan kedok investasi.
Ada juga yang ingin mudah mendapat gelar sarjana sampai memalsukan atau membeli gelar sarjana, supaya segera dapat pangkat, dan dari kedudukan berpangkat cepat bisa menjadi kaya. 

8. Tukang Menggerutu
Manusia Indonesia juga tukang menggerutu. Hanya saja, menggerutunya tak beralasan yang jelas apalagi hanya dari “katanya” atau “kabarnya” atau “dengarnya”.
Menggerutu adalah perkataan yang diucapkan dengan cara bergumam terus-menerus karena rasa mendongkol atau tidak puas dengan keadaan atau peristiwa yang dilihatnya atau yang dialaminya.
Parahnya, kadang menggerutu hanya beraninya di belakang orang yang dikeluhkan. Biasanya mereka yang tukang menggerutu, mencari orang yang sepemahaman dengan dirinya. Tak percaya? Lihat saja mereka. 

9. Cepat Cemburu dan Dengki
Cemburu dan dengki terhadap orang lain yang dilihatnya lebih maju dari dia. Ada perbedaan antara cemburu dan dengki. Cemburu berarti merasa tidak atau kurang senang melihat orang lain beruntung dan sebagainya alias  syirik. Jika cemburu, itu artinya berdasarkan omongan negatif, atau ejekan atau sejenisnya.
Namun jika dengki, ini yang parah. Dalam kamus Bahasa Indonesia, dengki berarti: menaruh perasaan marah (benci, tidak suka) karena iri yang amat sangat kepada keberuntungan orang lain.
Jadi, dengki lebih buruk dari cemburu, yaitu berusaha menjatuhkan orang lain, alias berniat jahat. Misal dengan memfitnah, hingga orang yang dituju menjadi terpuruk dalam satu hal atau beberapa hal akibat perbuatann sang pendengki itu.
Akibatnya mereka mudah untuk menjatuhkan orang lain dengan intrik, fitnah, dan lain-lain. Ini sering disebut dengan penyakit SMS “Senang Melihat orang Susah, Susah Melihat orang Senang”.

10. Sok dan Sombong
Kalau sudah berkuasa maka mudah “mabuk kuasa”. Kalau sudah kaya lalu menjadi “mabuk harta” , alias jadi rakus. Jika sudah merasa mengerti agama, maka akan “mabuk agama”.
Ibaratnya, semua yang dikatakan oleh sesepuhya maka akan dimakan dan dilahap bulat-bulat. Hal ini kemudian membuat dirinya merasa paling benar dari semuanya.
Sombong artinya menghargai diri secara berlebihan, congkak atau pongah. Manusia yang meninggikan (memegahkan) diri atau berkata, berbuat dan sebagainya, dengan congkak.
Padahal sifat SOMBONG inilah yang membuat Malaikat dilaknat Tuhan menjadi Iblis. Bukan karena makhluk terkutuk itu tidak taat ataiu tidak beribadah, bahkan ia dulunya dikenal sebagai ahli ibadah. Namun karena KESOMBONAGNNYA, makhluk terkutuk itu dilaknat Tuhan dan diusir dari syurga.
10 Karakter dan Sifat Buruk Orang Indonesia 10 Karakter dan Sifat Buruk Orang Indonesia Reviewed by Mr. M on 08.33 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.